Debat Berjalan Kaku, Jokowi dan Prabowo Dinilai Jenuh

                              Kedua pasangan capres dan cawapres debat capres kelima

Tribunnews.today – Sejumlah pengamat politik melihat debat terakhir Pilpres 2019 dinilai berjalan kaku. Hal ini bercermin dari debat sebelumnya yang cenderung menarik untuk disaksikan seluruh kalangan.Direktur Eksekutif Charta Politik Yunarto Wijaya menganggap hal yang membuat debat berjalan kaku bukan karena tema debat tentang ekonomi dan kesejahteraan sosial, investasi dan industri. Menurutnya, kedua paslon sudah jenuh dan lelah usai kampanye sekian bulan.

Dia menilai debat yang kurang menarik memberikan dampak buruk kepada paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Terutama dalam hal menarik simpati undecided voters. Hal itu diutarakan Direktur Eksekutif Indopol Survey and Consulting Sulistiyanto.

Sulistiyanto mengatakan selama ini undecided voters cenderung ingin memilih Prabowo-Sandi daripada Jokowi-Ma’ruf. Debat kelima, lanjutnya, merupakan kesempatan Prabowo-Sandi untuk meyakinkan para undecided voters agar memilih mereka.

Namun, lantaran debat berjalan kaku, bisa saja para undecided voters menjadi tidak ingin memilih salah satu paslon. Prabowo-Sandi yang paling merugi karena undecided voters lebih berpotensi memilih mereka.

“Jika dilihat dari tren survei dalam satu bulan belakang, bisa disimpulkan swing voters lebih cenderung ke 02, namun tetap tidak signifikan. Jadi saya pikir begitu (Prabowo-Sandi merugi) karena kurang bisa mendongkrak dengan gagasan yang menukik,” tutur Sulistiyanto.

Merujuk hasil survei Indopol, undecided voters sebanyak 4 persen. Sementara mereka yang merahasiakan pilihannya sebanyak 23 persen. Survei dilakukan pada 5-11 April dengan melibatkan 1.450 responden dan margin of error sekitar 2,6 persen. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 49 persen, Prabowo – Sandi 29 persen.

Hasil survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) menyatakan swing voters sebesar 10,9 persen. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf berkisar di angka 50,4 persen, Prabowo-Sandi 32,5 persen. Survei dilakukan pada 5-9 April, melibatkan 2.568 responden dengan margin of error sekitar 2,1 persen.

“Menurut saya angka undecided voters dan swing voters tidak bergerak signifikan jika melihat debat tadi. Kekakuan kedua pasangan calon dalam berdebat membawa efek kecewa bagi pemilih yang ragu dan belum menentukan pilihan,” tutur Sulistiyanto.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago sependapat debat kelima disebut kaku. Dia juga setuju dengan anggapan bahwa undecided voters cenderung ingin memilih Prabowo-Sandi.

Akan tetapi, bisa saja lebih memilih untuk golput setelah melihat debat yang berjalan kaku dan tidak menarik.

“Kalau mereka enggak puas dengan kedua paslon boleh jadi mereka golput,” tutur Pangi.

Menurut Pangi, Jokowi-Ma’ruf diuntungkan dalam debat kelima karena Prabowo-Sandi tidak menyerang terlalu agresif. Pangi lantas mengkritik Prabowo yang masih gemar memaparkan narasi usang terkait perekonomian Indonesia yang salah arah dan banyak kebocoran ke luar negeri.

Pangi menganggap penampilan paslon 02 terselamatkan berkat Sandi. Menurut Pangi, Sandi mampu menjelaskan dengan cara yang lebih menarik daripada Prabowo.

“Tidak menyentuh persoalan mendasar. Tidak bisa memanfaatkan momentum untuk menyerang lawan dan mengusai panggung. Prabowo sepertinya harus banyak mendengar masukan dari timnya. Namun sedikit terselamatkan dengan penampilan Sandi,” kata Pangi.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan hal senada dengan Pangi. Menurutnya, Prabowo tidak tampil mengesankan pada debat kali ini.

“Prabowo kurang maksimal, hanya mengulang narasi besar sebelumnya. Untung ada sandi terlihat menguasai,” kata Adi.

Menurut Adi, seharusnya debat kelima benar-benar dimanfaatkan oleh Prabowo dalam menaikkan elektabilitasnya. Terlebih, mulai Minggu (14/3) Prabowo sudah tidak bisa lagi berkampanye karena telah memasuki masa tenang.

“Debat akhir mestinya Prabowo unggul banyak, tapi sepertinya kurang memahami konsep operasional kebijakan ekonomi. Padahal sudah dibuka dengan kalimat pembuka yang bagus tentang Indonesia salah urus karena deindustrialisasi,” kata Adi.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply