Raut Lesu Sandi, Tak Ingin ‘Tercebur’ Narasi Prabowo Menang

Tribunnews.today – Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno terus menjadi perbincangan setelah tak hadir mendampingi pasangannya, Prabowo Subianto, dalam dua deklarasi kemenangan Pilpres 2019.

Sosok Sandi akhirnya terlihat ketika Prabowo mendeklarasikan kemenangan untuk ketiga kalinya pada Kamis (18/4) malam.

Namun, ekspresi dan gelagat Sandi dalam deklarasi malam itu membuat banyak pihak bertanya-tanya. Pasalnya, mimik dan gesture Sandi tidak mencerminkan seseorang yang telah memenangkan pesta demokrasi lima tahunan. Apalagi Sandi tak pernah memasang muka lusuh seperti itu sebelum-sebelumnya.

Berbeda dengan Prabowo yang berapi-api, Sandi memilih berdiri ‘manut’ di belakang Prabowo seraya pasangannya itu membacakan pidato kemenangan. Tak hanya itu, raut wajah Sandi mencerminkan kemuraman sepanjang Prabowo membacakan deklarasi kemenangan mereka.

Menurut pakar semiotika politik, Silvanus Alvin, gesture itu menunjukkan bahwa Sandi tidak nyaman menjadi pusat perhatian dalam momen besar tersebut.

Ia mengatakan Sandi bisa saja tidak sepakat dengan langkah dan narasi politik yang dibuat Prabowo sehingga dia memperlihatkannya secara tidak langsung dengan cara nonverbal.

“Komunikasi politik ada dua yakni verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal itu 30 persen, sementara nonverbal 70 persen, jadi orang lebih bisa menangkap dengan cepat komunikasi nonverbal tanpa harus ada penjelasan,” kata Silvanus, Jumat (19/4).

“Tanpa Sandi harus berkata, para penonton bisa memecah sinyal yang ia berikan lewat ekspresinya kemarin. Selama deklarasi tatapan Sandi tidak mengarah ke media, tapi ke bawah. Gesture ini tidak menunjukkan seorang pemenang dan justru memperlihatkan ketidaknyamanan,” ujar Silvanus.

Silvanus juga menyoroti wajah Sandi yang tidak tersenyum dan cenderung murung ketika Prabowo membaca deklarasi kemenangan mereka.

Padahal, Silvanus menganggap Sandi selama ini terkenal dengan keramahan pada warga dan senyumannya ketika tampil di depan publik, apapun keadaannya.

“Gesture Sandi yang cenderung menyilangkan tangannya ke belakang juga seolah menunjukkan kalau dia itu hanya manut saja dalam momen itu. Istilahnya seperti nurut perintah saja,” papar Silvanus.

Selain soal raut wajah, Silvanus memaparkan ketidaksetujuan Sandi dengan sikap Prabowo juga terlihat dari caranya berpakaian malam itu.

Dosen Komunikasi Politik dari Universitas Bunda Mulia itu mengatakan Sandi hanya memakai kaus polo berwarna biru tua. Sementara itu, pasangannya, Prabowo, mengenakan pakaian safari khasnya berwarna krem dalam momen sepenting itu.

Padahal selama ini keduanya terbilang cukup kompak saat harus tampil bersama di depan publik. Selama dua kali tampil dalam debat bersama, Prabowo-Sandi juga terlihat kompak dengan mengenakan setelan jas dan peci.

“Pakaian safari Prabowo oke lah masih formal, menunjukkan kalau dia menganggap momen deklarasi itu penting. Tapi malam kemarin, Sandi hanya memakai kaus polo, itu kan semi formal. Dan etis enggak sih memakai pakaian seperti itu di momen kemenangan pilpres kemarin?” kata Silvanus.

Dari seluruh gesture yang ditunjukkan Sandi malam itu, Silvanus menganggap mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta sebenarnya tidak ingin ‘tercebur’ dalam narasi politik yang dibuat Prabowo. Sebab, menurutnya, deklarasi kemenangan malam itu mempertaruhkan karir politik Sandi ke depannya.

“Sandi tentu pasti hapal terkait momen pemilu 2014 lalu ketika ada dua klaim kemenangan. Saya rasa dengan gesture malam itu, Sandi memang sebenarnya tidak ingin tercebur dalam narasi politik yang sama yang dibuat pasangannya pada Pilpres 2014 karena ini persoalan harga diri dan malu,” kata Silvanus.

Silvanus melihat, jika klaim kemenangan Prabowo benar-benar sesuai hasil perhitungan resmi KPU, maka kubu paslon 02 bisa menepis semua hasil quick count lembaga-lembaga survei. Tapi bila hasil real count KPU sebaliknya, maka deklarasi kemenangan Prabowo itu hanya membuat Sandi malu besar.

“Tapi jika ternyata hasil akhir rekapitulasi suara sesuai dengan hasil quick count, ini bisa menjadi kemaluan besar bagi Sandi. Karena orang tidak akan lupa rekam jejak politik,” kata Silvanus.

Lebih lanjut Silvanus melihat seharusnya kubu Prabowo-Sandi bisa lebih bijak dalam menyikapi momen usai gelaran Pemilu 2019 ini.

Alih-alih mendeklarasikan kemenangan sebelum rekapitulasi suara resmi keluar, Prabowo-Sandi seharusnya mengeluarkan narasi politik yang mengarah kepada persatuan bangsa.

“Seharusnya Prabowo-Sandi menunggu saja hasil rekapitulasi suara dari KPU RI. Kedua, mereka seharusnya membangun narasi politik yang mendorong warga ke arah persatuan, kembali ke pancasila sila ketiga,” ucap Silvanus.

Kegelisahan Sandi

Senada dengan Silvanus, Dosen Politik Univeristas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto menganggap ada kegelisahan atau anxiety dalam benak Sandi kala menghadiri deklarasi kemenangan malam itu.

Gun Gun menuturkan kegelisahan itu kerap terjadi pada setiap orang, terutama yang tengah menghadapi tekanan besar.

“Ekspresi Sandi malam itu memang berbeda dari biasanya. Selain karena pengakuannya sedang sakit, saya melihat ada anxiety uncertainty management dalam benaknya malam itu. Karena ketidaknyamanan itu secara alamiah tidak bisa ditutupi oleh raut wajah,” kata Gun Gun.

Gun Gun menganggap Sandi paham betul bahwa keputusannya menghadiri deklarasi kemenangan malam itu bisa merugikan karir politiknya yang masih panjang. Sebab, hasil penghitungan suara sementara menunjukkan hal sebaliknya.

“Saya kira dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, Sandi paham betul bahwa peluangnya untuk menang berdasarkan penghitungan cepat kecil. Meski baru sementara penghitungan suara kan tetap tidak bisa main. Saya rasa Sandi sebenarnya telah membaca peluang kecil itu,” katanya.

Sebelumnya kubu BPN Prabowo-Sandi menyebut Sandi tengah mengalami sakit saat dua deklarasi kemenangan Prabowo. Sandi disebut menderita cegukan akut.

Sandi baru muncul saat deklarasi kemenangan Prabowo yang ketiga kali pada Kamis (18/4).

Sandi kembali tak menemani Prabowo saat sujud syukur usai salat Jumat di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/4). Sandi justru diketahui salat Jumat bersama anak lelakinya, Sulaiman. Hal itu diketahui dari postingan di akun instagramnya.

Namun lagi-lagi Sandi disebut sakit tenggorokan dan lambung. Wakil Sekretaris BPN Chandra Tirta Wijaya mengatakan bahwa Jumat (19/4) ini, Sandi sudah disuntik dua kali oleh dokter Kartariyadi, ahli penyakit dalam dari Rumah Sakit Awal Bros, Bekasi.

“Tadi sudah disuntik dua kali,” kata Chandra di kediaman Sandi, Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (19/4).

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply