Anfield Rasa Istanbul

Liverpool berpesta di Stadion Anfield setelah menyingkirkan Barcelona.

Tribunnews.today – Pendukung Liverpool mungkin tidak akan mengharapkan Keajaiban Istanbul pada 2005 kembali terulang. Bukan hanya diulang, Divock Origi dan kawan-kawan membawa Keajaiban Istanbul itu ke Anfield saat mengalahkan Barcelona 4-0 pada leg kedua semifinal Liga Champions.

Tertinggal 0-3 dari Barcelona di leg pertama membuat sejumlah pihak mengatakan Liverpool membutuhkan Keajaiban Istanbul untuk bisa melangkah ke final Liga Champions untuk kali kedua beruntun. Ketika itu di Stadion Ataturk, Istanbul, 25 Mei 2005, Liverpool berhasil menjadi juara Liga Champions setelah sempat tertinggal 0-3 dari AC Milan di babak pertama.

Bukan tugas mudah untuk mengulangi sukses 2005. Liverpool butuh strategi yang tepat, permainan solid, 100 persen fokus sepanjang laga. Terlebih Mohamed Salah dan Roberto Firmino tidak bisa bermain karena cedera.

Tempo permainan tinggi, permainan terbuka, gol cepat, dan banyak peluang emas. Itu adalah sejumlah syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan pertandingan sepak bola yang menghibur. Keempat syarat itu tampak di leg kedua semifinal Liga Champions antara Liverpool vs Barcelona.

Tertinggal 0-3 dari Barcelona di leg pertama, Liverpool langsung tancap gas usai wasit Cuneyt Cakir meniup peluit tanda dimulai laga babak pertama di Stadion Anfield. Gegenpressing kembali dilakukan Liverpool. Sebuah pilihan yang masuk akal karena The Reds wajib mencetak gol cepat untuk membuka peluang sekaligus meruntuhkan mental Barcelona.

Divock Origi bermain gemilang saat Liverpool mengalahkan Barcelona 4-0.

Rencana Liverpool berjalan lancar di awal babak pertama. Pasalnya, Divock Origi sukses membobol gawang Barcelona saat laga berjalan tujuh menit. Liverpool patut berterima kasih kepada Jordi Alba yang melakukan blunder dengan memberi bola kepada Sadio Mane saat bermaksud melakukan backpass.

Gol Origi membuat Barcelona untuk kali pertama tertinggal di Liga Champions musim ini. Menarik untuk mengetahui bagaimana Barcelona bereaksi, karena bukan tugas mudah untuk bangkit dari ketinggalan melawan Liverpool di depan puluhan ribu pendukung The Reds di Stadion Anfield. Namun, ternyata Barcelona mampu menunjukkan mental juara.

Barcelona tidak panik dan merasakan tekanan. Terbukti sebuah peluang Philippe Coutinho yang diblok Alisson Becker, tendangan Lionel Messi yang tipis di sisi kiri gawang, dan sebuah peluang emas Messi di depan gawang Becker yang digagalkan Virgil van Dijk menunjukkan bahwa Barcelona tidak panik ketika tertinggal.

Liverpool melangkah ke final Liga Champions setelah menyingkirkan Barcelona.

Saat kedudukan 1-0 untuk tuan rumah, pertandingan terbuka terjadi. Liverpool berusaha memanfaatkan kelemahan fullback Barcelona dengan menaruh bola ke belakang Jordi Alba di kiri dan Sergi Roberto di kanan. Permainan itu beberapa kali terlihat dan cukup merepotkan Barcelona yang sangat mengandalkan Alba untuk membangun serangan.

Absennya Mohamed Salah dan Roberto Firmino juga tidak mengurangi ketajaman Liverpool. Xherdan Shaqiri mampu menjawab kepercayaan Juergen Klopp di babak pertama dengan merepotkan Alba dan Origi membuktikan diri dengan mencetak gol cepat.

Liverpool juga patut bersyukur mampu mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 1-0, karena Messi terlihat kehilangan sentuhan dalam melakukan penyelesaian akhir. Dua kali La Pulga melepaskan tendangan dan hanya berakhir tipis di sisi kiri gawang Becker. Liverpool juga pantas terima kasih kepada Becker yang melakukan blok penting ketika menggagalkan peluang Alba di injury time babak pertama.

Lionel Messi tidak berhasil memberikan perbedaan di laga Liverpool melawan Barcelona.

Unggul 1-0 di babak pertama adalah kondisi yang ideal untuk Liverpool. Dan dengan enam shot on target di babak pertama masing-masing tiga dilakukan Liverpool dan Barcelona membuat babak kedua dijamin akan berlangsung lebih seru.

Magis Messi Hilang

Di awal babak kedua kiper dari dua tim yang menjadi cerita. Marc-Andre ter Stegen berhasil memblok sontekan Van Dijk di mulut gawang pada menit ke-51 dan beberapa detik kemudian giliran Becker yang menepis tendangan mendatar Luis Suarez.

Cedera yang dialami Andrew Robertson membuat Klopp memasukkan Georginio Wijnaldum dan menarik James Milner sebagai bek kiri. Keputusan itu sedikit mengkhawatirkan pendukung Liverpool karena dengan demikian serangan The Reds dari sisi kiri bisa berkurang. Namun, kekhawatiran itu berubah menjadi sorakan gembira.

Wijnaldum justru berhasil mencetak dua gol untuk Liverpool pada menit ke-54 dan 56. Alba kembali melakukan blunder dengan kehilangan bola di sisi kiri untuk gol pertama Wijnaldum. Trent Alexander-Arnold berhasil merebut bola dan mengirim umpan silang ke Wijnaldum. Sementara gol kedua gelandang asal Belanda itu tercipta setelah memenangi duel udara melawan Gerard Pique dan Clement Lenglet.

Di titik ini, ketika tertinggal 0-3 dari Liverpool, Barcelona membutuhkan magis Messi seperti di leg pertama. Namun bukannya magis Messi yang datang, justru musibah yang menghampiri Blaugrana. Pada menit ke-79 lini pertahanan Barcelona hilang konsentrasi dan berujung pada gol Origi.

Kecerdikan Alexander-Arnold dalam mengambil sepak pojok dengan cepat di saat para pemain Barcelona sedang mengatur lini pertahanan membuat Origi dengan mudah membobol gawang Barcelona. Tiga gol dalam dua laga terakhir, Origi sukses menjawab kepercayaan yang diberikan Klopp.

Tertinggal 0-4 dari Liverpool sebenarnya Barcelona tinggal butuh mencetak satu gol untuk lolos ke final. Tapi, kepercayaan diri Liverpool sudah tinggi-tingginya. Sorakan puluhan ribu suporter Liverpool di Stadion Anfield membuat Virgil van Dijk dan kawan-kawan semakin bersemangat.

Kalah 0-4 dan gagal ke final Liga Champions, Barcelona hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Tim asuhan Ernesto Valverde itu melakukan kesalahan yang dilakukan Liverpool di leg pertama: payah dalam penyelesaian akhir!

Rate this article!
Anfield Rasa Istanbul,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply