Mereka yang Dulu Kawan Kini Jadi Lawan Mark Zuckerberg

Tribunnews.today – Raksasa media sosial Facebook kembali ditekan oleh salah satu sosok penting yang pernah berjasa membangun perusahaan ini. Salah satu pendiri Facebook, Chris Hughes, baru-baru ini mengungkapkan kritiknya terhadap Facebook dan meminta platform media sosial itu dipecah.

Maksud dipecah di sini adalah Facebook memisahkan Instagram dan WhatsApp yang telah mereka akuisisi sebelumnya. Hughes melihat Facebook terlalu kuat dan hal ini ia sebut harus dihentikan.

Melihat sikap Hughes, tentu kita bertanya-tanya, kenapa seorang teman dari CEO sekaligus pendiri Facebook Mark Zuckerberg bisa berubah haluan dan ikut menentang perusahaan yang mereka dirikan bersama itu. Walau begitu, ternyata Hughes bukanlah satu-satunya sosok kawan yang menjadi lawan bagi Zuckerberg.

Ada sejumlah nama-nama lain, yang kini tak lagi sejalan dengan Zuckerberg dan memiliki pemikiran yang bertentangan. Berikut ini daftarnya.

1. Roger McNamee

Roger McNamee merupakan investor awal dari Facebook. Ia juga pernah menjadi mentor bagi Mark Zuckerberg di saat awal-awal Facebook berdiri. Namun, kedekatan yang pernah terjalin itu tampak berubah pada Januari 2018.

Sebelum terungkapnya skandal kebocoran data Cambridge Analytica, McNamee menuduh Zuckerberg dan Facebook sebagai ‘toxic’ atau jika diartikan adalah racun. Saat itu ia menyampaikannya dalam kolom opini di surat kabar.

Kemudian, apa yang ia nyatakan itu dituangkan secara gamblang dalam buku berjudul ‘Zucked: Waking Up to the Facebook Catastrophe’.

2. Justin Rosenstein

Apabila McNamee adalah investor awal Facebook, maka Justin Rosenstein adalah salah satu pegawai pertama Facebook. Ia merupakan salah satu sosok yang berjasa menemukan fitur ‘Like’ di Facebook.

Rosenstein memutuskan untuk keluar dari Facebook pada 2008. Kini, ia telah membangun startup baru bernama Asana, bersama Dustin Moskowitz, salah satu pendiri Facebook.

Dalam sebuah wawancara pada 2017 dengan The Guardian, Rosenstein mengaku telah berhenti menggunakan media sosial dan mengkritik fitur ‘Like’ yang ada di Facebook.

3. Chris Hughes

Co-founder Facebook, Chris Hughes, memutuskan untuk keluar dari perusahaan setelah bergabung sebagai volunteer untuk kampanye Barack Obama untuk Pilpres AS pada 2008 silam.

Dan baru-baru ini, seperti yang telah dipaparkan di atas, Hughes menyampaikan kritiknya terhadap Facebook. Ia meminta Facebook untuk dipecah, tak lagi bergabung menjadi satu dengan WhatsApp dan Instagram. Hughes menyarankan ketiganya menjadi perusahaan publik yang terpisah.

“Mark (Zuckerberg) adalah orang yang baik. Tapi saya marah melihat fokusnya terhadap pertumbuhan perusahaan membuatnya mengorbankan keamanan dan sopan santun demi klik,” tulis Hughes, dalam kolom opininya di The New York Times.

4. Brian Acton

Salah satu langkah pintar dari Facebook adalah ketika mengakuisisi WhatsApp senilai 19 miliar dolar AS pada 2014. Tapi, para pendiri WhatsApp, Brian Acton dan Jan Koum, adalah orang-orang yang terobsesi dengan privasi.

Oleh karena itu, apa yang mereka terapkan di WhatsApp sering kali bersinggungan dengan Facebook. Ini dikarenakan Facebook menjalankan bisnis yang menghasilkan uang dari koleksi informasi penggunanya.

Berbeda pendapat, Acton kemudian mundur dari Facebook pada 2017 dan menjadi penasihat untuk aplikasi pesan kompetitor WhatsApp bernama Signal. Ia juga menyerukan slogan “Delete Facebook” yang ramai di media sosial.

5. Jan Koum

Mengikuti jejak Acton, Jan Koum juga memutuskan untuk keluar dari Facebook pada April 2018. Hanya selang beberapa bulan setelah Acton.

Menurut laporan The Washington Post, Koum mundur dari posisi CEO WhatsApp setelah bertengkar dengan Facebook terkait rencana monetisasi aplikasi pesan tersebut. Sama seperti Acton, Koum juga menjadi miliarder ketika Facebook mengakuisisi WhatsApp.

6. Sean Parker

Sean Parker adalah presiden pertama dan investor awal Facebook. Namun, pemikirannya soal media sosial telah berubah sepenuhnya. Pada November 2017, ia pernah mengkhawatirkan dampak media sosial terhadap otak manusia.

“Hanya Tuhan yang tahu apa dampak (media sosial) terhadap otak anak-anak,” ujar Parker, kepada Axios.

Menurut Parker, media sosial seperti Facebook dirancang untuk mengeksploitasi merusak otak anak-anak lewat fitur seperti ‘Like’.

7. Leah Pearlman

Pearlman, yang merupakan mantan manager di Facebook, kini berprofesi sebagai ilustrator. Ia dahulu berperan mengembangkan konsep yang menjadi cikal bakal tombol ‘Like’ di Facebook. Ya, ia bekerja sama dengan Rosenstein dan pegawai lainnya.

Meski ide awalnya untuk membawa positivisme di jejaring sosial, Pearlman kini malah mengkhawatirkan dampak yang ditimbulkan dari tombol ‘Like’.

Dalam sebuah wawancara dengan The Ringer pada 2017, Pearlman mengatakan ia dihantui oleh salah satu episode serial TV ‘Black Mirror’ yang menampilkan kredibilitas orang-orang dinilai melalui sistem rating yang bisa dilihat menggunakan teknologi canggih.

8. Chamath Palihapitiya

Seperti Sean Parker, mantan eksekutif Facebook Chamath Palihapitiya juga mengkhawatirkan efek dari dopamin yang bisa ditimbulkan oleh Facebook. Dalam wawancara di Stanford pada 2018, Palihapitiya pernah mengatakan, “Dalam jangka pendek, tanggapan yang menghasilkan dopamin telah menghancurkan bagaimana masyarakat bersosialisasi,” ujar Palihapitiya.

“Tidak ada petunjuk. Tidak ada kerja sama. Misinformasi. Hoaks. Dan itu bukan hanya masalah orang Amerika. Bukan juga tentang iklan-iklan Rusia. Tapi ini masalah global. Jadi sekarang kita berada di posisi yang buruk, menurut saya,” jelasnya.

9. Sandy Parakilas

Sandy Parakilas bekerja di Facebook sebagai manajer operasional pada tahun 2011 dan 2012. Mungkin Zuckerberg dan COO Facebook Sheryl Sandberg tidak tahu nama Parakilas saat ia keluar pada 2012 lalu, tapi mungkin kini keduanya tahu siapa itu Parakilas.

Parakilas terlibat dalam penggarapan satu elemen di platform Facebook yang menjadi krusial terkait skandal data Cambridge Analytica pada 2018. Ia mengkritik cara Facebook yang seharusnya membuat kebijakan untuk developer pihak ketiga di platform-nya.

10. Kevin Systrom

Akuisisi pintar Facebook lainnya adalah ketika mereka mengambil alih kepemilikan Instagram dengan mahar 1 miliar dolar AS. Kevin Systrom dan Mike Krieger, sebagai dua pendiri Instagram, bertahan selama enam tahun di Facebook setelah akuisisi tersebut.

Namun, keduanya memutuskan untuk mundur bersama pada September 2018 dengan alasan yang masih belum jelas. Enam tahun memang bukan waktu yang singkat untuk membuat keduanya bertahan. Tapi, ada tanda-tanda jika terjadi sesuatu yang tidak harmonis sehingga membuat keduanya pergi.

“Tidak ada yang meninggalkan pekerjaannya karena semuanya berjalan baik, bukan? Bekerja itu sulit,” ujarnya, dilansir Business Insider.

11. Chris Cox

Chris Cox adalah salah satu orang penting dan teman dekat Zuckerberg. Sebelum menyatakan keluar dari perusahaan, ia menjabat sebagai Chief Product Officer.

Setelah keluar, Cox tidak secara terbuka mengkritik Facebook, tapi ia menunjukkan tanda-tanda jika dirinya tidak setuju dengan arah baru yang diambil Zuckerberg. Terutama terkait perubahan backend dari Facebook, WhatsApp, dan Instagram.

Kepada Yahoo Finance, Cox mengaku meninggalkan Facebook karena perbedaan visi.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply