Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un Uji Coba Teknik Eksekusi Mati Terbaru, Pakai Ikan Piranha!

Tribunnews.today , Korea Utara – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un baru-baru ini menguji teknik eksekusi mati terbarunya.

Metode ini menggunakan ikan piranha yang diletakkan di tangki untuk mengeksekusi mati orang yang tereksekusi.

Melansir Daily Mirror pada Jumat (15/6/2019), metode ini diduga telah diujicobakan kepada seorang Jenderal di Korea Utara.

Jenderal yang namanya belum disebutkan tersebut dituduh merencanakan kudeta, tetapi berakhir sebagai korban terbaru dalam uji coba metode eksekusi mati terbaru ini.

Dilaporkan bahwa tangki berisi ikan piranha ini dibangun di dalam Kim Jong-un’s Ryongsong Residence.

Korban akan dipotong-potong pada bagian lengan dan dada menggunakan pisau, kemudian dilemparkan ke dalam tangki berisi ikan piranha.

Menurut sebuah sumber, tidak dijelaskan secara pasti apakah sang jenderal dibunuh terlebih dahulu atau langsung dipotong dalam kondisi hidup.

Menurut keterangan, metode ini terinspirasi film James Bond 1977 The Spy Who Love. Film tersebut menceritakan penjahat Karl Stromberg mengeksekusi lawan-lawannya, dengan cara melemparkannya ke dalam akuarium yang berisi hiu.

Sedangkan akuarium milik Kim Jong-un diyakini dipenuhi ikan piranha yang diimpor dari Brazil.

Seperti diketahui, ikan pemakan daging semacam piranha, memiliki gigi tajam dan bisa merobek daging dalam hitungan menit.

Sejauh ini diduga Kim Jong-un telah mengeksekusi setidaknya 16 senior sejak dia berkuasa pada tahun 2011. Sebelumnya dia diketahui telah mengeksekusi kepala tentaranya, CEO Bank Central Korea Utara, dan duta besar Kuba di Malaysia.

Menurut pasukan intelijen Inggris, sebagian orang ketakutan karena kekuasan Kim Jong-un.

“Banyak musuh negara dieksekusi di depan umum.”

“Dia ingin semua orang tahu, termasuk para pembantunya yang paling dipercaya, bahwa mereka bisa saja mengalami kematian yang tidak menyenangkan jika melakukan penghianatan,” kata laporan itu.

“Dia menggunakan kekuatan ketakutan dan teror sebagai alat politik. Penggunaan piranha adalah cara yang efisien untuk membunuh seseorang yang mengganggunya.”

Sebelumnya, pejabat senior di Korea Utara dieksekusi atas perintah Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada Maret 2019.

Eksekusi terhadap pejabat senior itu dilakukan setelah pertemuan Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi, Vietnam, pada Februari lalu, menuai kegagalan.

Pertemuan yang dilangsungkan selama dua hari tidak menghasilkan kesepakatan apa pun, karena Kim Jong-un maupun Donald Trump tidak sepakat soal sanksi yang diberikan kepada Korut.

Diberitakan Chosun Ilbo via Sky News Kamis (30/5/2019), salah satu dari korban eksekusi Kim Jong-un adalah pejabat senior Kementerian Luar Negeri Kim Hyok Chol.

Kim Hyok Chol merupakan merupakan utusan Korea Utara yang bertanggung jawab atas perundingan kedua Kim Jong-un dan Donald Trump di Vietnam, bersama Utusan AS Stephen Biegun.

“Kim Hyok Chol dan empat pejabat kementerian luar negeri lainnya diinterogasi dan dieksekusi di Bandara Mirim Maret lalu,” kata sumber internal Korut.

Mereka dibunuh setelah dituduh menjadi mata-mata bagi Washington.

Chosun Ilbo memberitakan, eksekusi itu merupakan upaya pengalihan yang dilakukan Pyongyang terhadap isu kekacauan internal dan ketidakpuasan.

Laporan PBB baru-baru ini menyatakan penduduk di negara tetangga Korea Selatan (Korsel) itu hidup dalam “lingkaran setan, korupsi, dan penindasan”.

Selain Kim Hyok Chol, pejabat lain yang disingkirkan adalah Kim Yong Chol.

Pejabat yang disebut sebagai orang nomor dua Kim Jong-Un itu disebut dikirim ke kamp kerja paksa di Provinsi Jagang.

Kim Song Hye yang ditunjuk untuk melakoni pembicaraan tingkat tinggi dengan Kim Yong Chol, dikabarkan juga dikirimkan ke fasilitas penjara politik.

Shin Hye Yong, penerjemah Kim Jong-un saat pertemuan dengan Donald Trump di Hanoi, juga dikirim ke penjara politik karena dianggap membuat kesalahan interpretasi akut.

Sementara, sang adik yang juga petinggi Korea Utara, Kim Yo Jong, terkena imbasnya dengan menduduki jabatan “paling rendah” di tubuh Partai Buruh.

Kabar pembersihan itu terjadi setelah harian resmi Korut Rodong Sinmun merilis editorial berisi peringatan kepada para pejabat yang tak sungguh-sungguh setia kepada Kim Jong-un.

Dalam ulasannya, Rodong Sinmun memaparkan mereka yang lidahnya mengiyakan Kim Jong-un, namun hatinya malah memikirkan tempat lain, bakal menghadapi hukum yang keras.

“Terdapat para pengkhianat dan penjilat yang hanya bisa mengingat namun tak bisa bersumpah setia kepada sang Pemimpin. Bahkan mereka bisa berubah sewaktu-waktu,” ulas Rodong.

Kim Jong-Un dilaporkan sudah membunuh puluhan pejabat senior sejak menggantikan sang ayah Kim Jong Il pada 2011, termasuk pamannya, Jang Song Thaek.

Pada 2016, seorang pejabat Korea Utara dieksekusi dengan cara ditembak menggunakan senjata anti-pesawat, setelah ketahuan tertidur ketika pertemuan dengan Kim Jong-un.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply