Sniper Cantik Ini Diklaim Habisi 100 Nyawa Tentara ISIS

Tribunnews.today , Pengalaman pahit masa kecil Joanna Palani, perempuan cantik berdarah campuran Denmark-Kurdi ini memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah dan belajar menembak. Siapa sangka sosok Joanna Palani yang cantik bak model ini handal dalam menembak.

Dikabarkan Joanna telah menghabisi nyawa 100 pejuang ISIS. Karena kehebatannya, Joanna Palani menjadi ancaman bagi ISIS hingga pemimpin ISIS akan memberikan uang kepada siapa saja yang bisa membunuhnya.

1.Belajar menembak sejak usia 9 tahun

Joanna Palani adalah seorang penembak kebanggaan Battalion YPG bagian dari Angkatan Bersenjata Pemerintah Regional Kurdistan, Irak. Latar belakang pengalaman pahit masa kecilnya saat ia menyaksikan perjuangan keluarganya dalam melawan peperangan di Irak, membuat Joanna memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah dan menjadi sniper.

Dilansir dari Tribunnews.today, pada usia empat tahun, ia sempat diungsikan ke Denmark untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Namun keinginannya untuk menguasai senapan tak kuasa ditepis ketika kakeknya mengajaknya berlatih menembak pada usia sembilan tahun.

Sejak saat itu pula ia semakin membenci penindasan dan ingin melawannya. Joanna selalu geram setiap kali mendengar pejuang ISIS menindas anak-anak dan perempuan.

2.Menjadi sasaran pembunuhan oleh ISIS

Tak main-main, keganasannya dalam menggunakan senjata kesayangannya yang berjenis senapan SVD Dragunov dan Kalashnikov telah mampu menghabisi 100 nyawa pejuang ISIS. Karena keahliannya tersebut, pimpinan ISIS merasa terancam dengan keberadaan Joanna.

Pimpinan ISIS bukannya tak menyadari bahwa Kurdi punya ‘mesin pembunuh’ yang agak unik tersebut. Untuk itu, mereka telah mengumumkan bahwa kepada siapa saja yang berhasil membunuh atau menangkap Joanna Palani, akan diberi hadiah sebesar 1 juta dollar atau sekitar Rp. 13 miliar.

Joanna pun mengungkapkan keinginan ISIS untuk menangkapnya, bahkan ingin menjadikan Joanna sebagai budak seks.

3.Joanna sempat dijebloskan penjara

Berbeda dari kebanyakan perempuan di usianya yang sibuk di bangku kuliah, Joanna lebih senang mengasah keahliannya dalam menggunakan senjata. Oleh karena itu, media Eropa pun tertarik untuk mengupas tentang kisah hidup Joanna.

Dilansir dari Allthatsinteresting.com, Joanna sempat kembali ke Denmark, namun karena keahliannya dalam menembak sudah diketahui oleh pemerintah Denmark, Joanna pun dipersulit.

Pada saat itu Joanna dalam kondisi kesulitan ekonomi. Joanna dituding telah berperang menjadi prajurit tidak resmi. Pemerintah Denmark pun mencabut larangan meninggalkan Denmark dan mencabut passport miliknya. Pengadilan pun memvonis hukuman 9 bulan penjara.

Nick Fagge dan Lara Whyte dari Daily Mail Online berhasil mewawancarai The Most Wanted Woman Sniper ini tak lama setelah dibebaskan dari penjara akhir Januari lalu. P.E.T. bermaksud “mengamankan” sang sniper, tapi pihak kejaksaan tampaknya tak mau ambil risiko.

Dibalik paras cantik Joanna, berbekal keahliannya dalam mengoperasikan senjata, Joanna mempunyai niat mulia dalam membebaskan Kurdi dari penindasan pasukan ISIS.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply