Gigitan Ular Weling Mematikan, Cara Mistis Ini Perlu Ditinggalkan

Tribunnews.today , Jakarta – Gigitan ular weling sangat membahayakan. Seorang satpam di Gading Serpong menjadi korban. Menurut ahli, penanganan terhadap kasus gigitan ular sangat menentukan keselamatan jiwa korban.

Hanya 1 Miligram bisa weling bisa menewaskan seorang manusia, sementar king cobra perlu 12 mg bisa dari kelenjarnya untuk menewaskan seorang manusia. Weling (Bungarus candidus) merupakan salah satu ular dengan bisa paling mematikan nomor empat di dunia.

Perlu cara khusus untuk menangani gigitan ular. Namun di masyarakat, banyak cara-cara tak masuk akal masih dipraktikkan untuk mengatasi gigitan ular. Kemanjuran cara-cara itu masih misterius karena sulit dibuktikan secara ilmiah.

Pakar penanganan gigitan hewan berbisa (toksinolog) sekaligus penasihat temporer WHO untuk gigitan ular, dr Tri Maharani, menyoroti langkah mistis itu. Cara-cara tidak masuk akal masih saja dipraktikkan untuk menangani gigitan ular, termasuk ular weling yang saat ini tengah disorot.

“Kita perlu mengubah persepsi mistis menjadi medis,” kata Maha, sapaan Maharani, Sabtu (24/8/2019).

‘Kepercayaan mistis’ yang dia temukan di lapangan termasuk penanganan luka gigitan ular dengan ramuan cuka dicampur dengan vetsin dari merek terkenal. Ada pula kepercayaan racun gigitan ular bisa ditawarkan dengan minum air kelapa muda atau madu.

“Kalau digigit ular kan mistis-mistis begitu di masyarakat. Ada yang percaya bila digigit ular maka perlu diberi batu hitam, diberi batu akik, ditempeli keris,” kata Maha.

Pendiri dan koordinator Remote Envenomation Consultant Service (RECS) Indonesia ini juga menceritakan perihal mitos yang hidup di Kalimantan, bila digigit ular berbisa maka korban harus balapan masuk ke air sungai melawan si ular. Bila balapan itu dimenangkan si manusia, maka nyawa si manusia akan selamat. Bila balapan dimenangkan si ular, maka si manusia akan mati. Dia juga memastikan tak ada jamu yang bisa menawarkan bisa ular.

“Secara riset, venom itu tidak mungkin dikeluarkan oleh akik dan jamu-jamuan. Yang bisa mengeluarkan adalah antivenom yang juga merupakan protein, protein itu bisa mengikat venom dan mengeluarkannya dari dalam tubuh,” tutur Maha.

Dia merasa penanganan yang tepat terhadap gigitan ular perlu diketahui orang banyak. Sudah 40 orang yang kena gigitan ular yang laporannya dia terima sejak Januari hingga Agustus 2019. Jumlah itu tentu saja belum termasuk peristiwa gigitan ular yang laporannya tidak dia terima. Dia berharap Kementerian Kesehatan perlu meningkatkan program penanganan terhadap gigitan hewan berbisa.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply