Gories Mere, Perintis Densus 88 yang Jadi Target Pembunuhan

Tribunnews.today – Gories Mere adalah satu dari empat nama pejabat negara yang disebut menjadi sasaran kelompok pembunuh bayaran. Namanya jarang terdengar selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Lantas siapakah Gories Mere?

Gories Mere merupakan purnawirawan perwira tinggi Polri. Pangkat terakhir yang dia sandang saat masih aktif di Polri adalah komisaris jenderal polisi (komjen pol) atau jenderal bintang tiga.

Gories pensiun dari kedinasannya di Polri sejak 2012. Dia diangkat menjadi Staf Khusus (Stafsus) Presiden Jokowi di bidang intelijen pada Juli 2016.

“Iya, sudah ada penambahan dua orang stafsus. Jadi Pak Gories Mere sama Pak Diaz Hendropriyono. Keppresnya sudah terbitkan beberapa minggu yang lalu,” ucap Mensesneg Pratiko di kompleks Istana, Jakarta, Senin (11/7/2016) silam.

Semasa aktif di Polri, prestasi menonjol Gories di ranah pemberantasan kejahatan narkotika. Gories adalah perwira yang memimpin perburuan ‘Ratu Ekstasi’ Zarima, yang kedapatan memiliki 29.667 butir ekstasi, hingga ke Amerika Serikat pada 1996.

Prestasinya di bidang pemberantasan teroris juga gemilang. Dia memimpin perburuan pelaku bom Bali I yang terjadi pada 2002. Gories berhasil melacak keberadaan teroris asal Malaysia yang menjadi aktor intelektual pengeboman, yaitu Dr Azhari.

Gories merupakan salah satu perwira yang merintis pembentukan Densus 88 Antiteror Polri dan akhirnya diangkat menjadi Kepala Densus (Kadensus) 88 Antiteror Polri. Meski diberi job bintang tiga sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Gories tetap aktif pada kegiatan oprasi penangkapan teroris.

Pada 2010, Gories, yang kala itu telah menjadi Kepala BNN, ikut serta dalam penggerebekan teroris di Medan, Sumatera Utara. Menurut Ketua Badan Pengurus Kontras saat itu, Usman Hamid, keterlibatan Gories dalam operasi tersebut bukan lagi menjadi tanggung jawabnya.

Usman mengkritik pimpinan Polri kala itu, Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Menurutnya, jika Gories masih diperlukan di Densus Antiteror, mengapa ditugasi di BNN.

Dilansir dari berbagai sumber, Gories lahir di Flores Timur pada 17 November 1954. Dia merupakan lulusan Akabri tahun angkatan 1976. Pada 2011, atau kurang-lebih setahun sebelum pensiun, Gories pernah mendapat teror bom buku.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap nama tokoh nasional yang diancam akan dibunuh kelompok perusuh 21-22 Mei. Nama Gories Mere masuk daftar target pengancam.

“(Dari) Pemeriksaan resmi, mereka menyampaikan nama Pak Wiranto, Pak Luhut Menko Maritim, ketiga itu Pak Kabin, keempat Gories Mere,” kata Tito dalam jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/5/2019).

Selain itu, kelompok pengancam menargetkan pimpinan lembaga survei. Namun Tito enggan menyebut nama yang dimaksud.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply