Akhir Cerita Ngototnya Jaksa Penjarakan ABG Korban Perkosaan

Tribunnews.today , Jakarta – Mahkamah Agung (MA) menolak tegas permintaan jaksa untuk memenjarakan korban perkosaan. Korban yang masih berusia 15 tahun itu diperkosa oleh kakaknya sendiri.

Berikut kronologi kasus tersebut sebagaimana dirangkum Tribunnews.today, Kamis (4/7/2019):

September 2017
Kasus bermula saat si kakak memperkosa adiknya. Pemicunya, si kakak menonton film porno. Si kakak usianya 17 tahun, si adik usianya 15 tahun. Akibat perkosaan itu, si adik hamil. Ia kemudian menggugurkan kehamilannya di usia janin 5 bulan. Kasus itu kemudian masuk ke ranah hukum.

19 Juli 2018
PN Muara Bulian Jambi menjatuhkan hukuman:
– Kakak dihukum 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja
– Adik dihukum 6 bulan penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan

Mengapa ABG malang itu dipenjara? Pasal 31 ayat 1 PP Nomor 61/2014 tentang Kesehatan Reproduksi menyebutkan:

Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan indikasi kedaruratan medis atau kehamilan akibat pemerkosaan.

Pasal 31 ayat 2 mengatur lebih lanjut:

Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

“Itu menurut kami sudah tepat, sudah memenuhi visi keadilan,” kata juru bicara PN Muara Bulian, Listyo Arif Budiman.

3 Agustus 2018
Jaksa Agung Muda (JAM) Pidana Umum Noor Rachmad menyatakan tuntutan 6 bulan penjara sudah sesuai hukum. Sebab, ABG itu melakukan aborsi dan itu merupakan tindak pidana.

“Iya, korban dari perkosaan itu. Namun dia ada perbuatannya ketika dia menggugurkan nyawa itu kan juga melanggar aturan. Tapi karena dia anak, tentunya pun proporsional,” ucap Noor.

Saat di persidangan, Noor mengatakan, jaksa sudah sangat proporsional saat melakukan penuntutan. Dia mengatakan vonis 6 bulan remaja perempuan itu diterima kejaksaan dan tak ajukan banding.

“Kami memperhatikan juga nasib anak itu. Oleh karena itu, putusan 6 bulan kami terima,” tuturnya.

16 Agustus 2018
Pengadilan Tinggi (PT) Jambi tetap menghukum si kakak selama 2 tahun penjara.

27 Agustus 2018
PT Jambi membebaskan si anak korban perkosaan. Dengan berbagai pertimbangan, aborsi tersebut dinilai gugur sifat melawan hukumnya.

“Amar putusan menyatakan anak tidak layak hukum telah terbukti melakukan tindakan pidana aborsi. Tetapi yang dilakukannya itu dalam keadaan daya paksa. Maka, melepaskan anak dari segala tuntutan hukum,” ujar majelis hakim PT Jambi, Jhon Diamond Tambunan.

14 September 2018
Jaksa penuntut umum tetap mengajukan kasasi. Jaksa ngototdalam tuntutannya, yaitu meminta si anak korban pemerkosaan dipenjara selama 6 bulan dan kerja sosial 3 bulan.

17 September 2018
Masyarakat melakukan aksi ke Kejati Jambi. Sebab, jaksa ngotot mengajukan kasasi dan menuntut korban perkosaan dihukum penjara.

“Tolak! Tolak! Tolak kasasi. Tolak kasasi sekarang juga,” teriak massa dari Save Our Sister di depan Kantor Kejati Jambi, Jalan Ahmad Yani, Jambi.

25 Juni 2019
MA menolak permohonan jaksa untuk memenjarakan korban.

“Tolak kasasi jaksa penuntut umum pada Kejari,” demikian lansir Tribunnews.today Kamis (4/7/2019). Perkara Nomor 533 K/PID.SUS/2019 itu diadili oleh hakim tunggal pada tingkat kasasi, hakim agung Sumardjiatmo.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply